Minyak Jelantah, Antara Bahaya dan Nilai Guna

Minyak goreng merupakan salah satu bahan pokok yang sangat diperlukan masyarakat. Bahkan kenaikan harga minyak goreng saat ini tidak menyurutkan keinginan mereka untuk  mengkonsumsi gorengan. Oleh karena itu penggunaan minyak goreng yang berulang kerap kali dilakukan untuk menekan pengeluaran pembelian minyak goreng.

Minyak goreng yang digunakan secara berulang hingga berwarna coklat gelap yang sering kita sebut dengan minyak jelantah sangat tidak aman untuk digunakan. Penjernihan minyak jelantah tidak dianjurkan karena penjernihan hanya bertujuan mengubah warna gelap minyak menjadi lebih jernih tetapi sifat karsinogeniknya masih ada sehingga masih berbahaya bagi kesehatan . Penggunaan minyak jelantah dalam waktu tertentu dapat berdampak buruk  bagi kesehatan akibat deposisi sel lemak yang terjadi di usus halus, pembuluh darah, hepar dan jantung.  Semakin sering menggunakan minyak jelantah semakin memicu efek negatif kesehatan seperti;  meningkatnya resiko kanker, meningkatnya kolesterol jahat dan tekanan darah, obesitas, bahkan infeksi bakteri dan keracunan.

Sebagian besar dari masyarakat sudah mengetahui resiko dari penggunaan minyak jelantah bagi kesehatan sehingga banyak dari mereka membuang begitu saja minyak jelantah yang sudah selesai digunakan entah itu ke tempat sampah, ke got atau ke sungai. Padahal dengan membuang begitu saja minyak jelantah akan berdampak buruk pula bagi lingkungan. Diantaranya;

1. Merusak ekosistem perairan, minyak yang tidak bisa menyatu dengan air akan mengapung di atas sehingga sinar matahari akan terhambat masuk ke air akibatnya biota air bisa mati.

2. Pencemaran tanah, tanah menjadi padat dan kehilangan nutrisi bagi tumbuhan

3. Dapat menyumbat saluran air.

Melihat bahaya yang ditimbulkan dari minyak jelantah baik bagi kesehatan maupun bagi lingkungan, maka berbagai inovasi telah dilakukan untuk mendaur ulang minyak jelantah menjadi suatu produk baru yang bermanfaat. Diantaranya minyak jelantah dibuat menjadi sabun, lilin aroma terapi bahkan sekarang minyak jelantah dikembangkan menjadi biodiesel yang ramah lingkungan.  Untuk rumah tangga penghasil minyak jelantah dan belum bisa membuat daur ulang minyak sendiri, maka cara mudahnya adalah dengan mengumpulkan minyak jelantah dan kalau sudah banyak dapat dijual kembali ke pengepul yang untuk selanjutnya dijadikan produk daur ulang yang bermanfaat.

Melalui moment World Clean Up Day yang diperingati setiap bulan September, SMP Muhammadiyah 1 Kudus bekerjasama dengan Majelis Lingkungan Hidup (MLH) PDM Muhammadiyah Kudus mengadakan program kegiatan Sedekah Jelantah yang nantinya limbah jelantah tersebut akan didaur ulang menjadi produk yang mempunyai nilai guna.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Translate »