Fenomena Gerhana Matahari 2023 dan Hisab Hakiki Wujudul Hilal Muhammadiyah

SPEMUKU – Pada hari ini, kamis 20 April 2023  akan terjadi satu fenomena alam yang menakjubkan, yaitu Gerhana Matahari total dan Gerhana Matahari cincin yang terjadi berurutan dalam satu waktu, dalam ilmu astronomi disebut dengan Gerhana Matahari Hibrida. Gerhana Matahari total pada hari ini akan melintasi Laut Timor yang berada disebelah Tenggara Pulau Timor, sedangkan sebagian besar wilayah Indonesia akan dilintasi Gerhana Matahari dalam bentuk lain. Menurut metode hisab Muhammadiyah, Gerhana Matahari pada hari ini terjadi sejak pukul 09.26 WIB,  puncaknya pukul 10.48 WIB, dan berakhir pada pukul 12.16 WIB.

Gerhana Matahari terjadi apabila posisi matahari, bulan dan bumi, berada dalam satu garis lurus, dalam ilmu astronomi disebut dengan ijtima’ atau konjungsi. Kenapa terjadi gerhana matahari? karena cahaya matahari yang seharusnya sampai ke bumi, tertutup oleh bayang-bayang rembulan.

Pada saat terjadi Gerhana Matahari, posisi rembulan/hilal dalam keadaan bulan baru. Sehingga dapat di katakan, jika terjadi Gerhana Matahari, pasti terjadi ketika bulan baru/bulan sabit. Akan tetapi setiap bulan baru/bulan sabit, belum tentu terjadi Gerhana Matahari. Pada umumnya anggapan masyarakat secara luas adalah apabila hari ini terjadi Gerhana Matahari, maka besok sudah masuk bulan baru Hijriyah.

Selanjutnya, apabila Gerhana Matahari terjadi diwaktu antara pagi sampai siang, maka kemungkinan besar magribnya dan keesokan harinya sudah memasuki awal bulan baru, karena tinggi hilal sudah berada diatas ufuk. Akan tetapi, apabila Gerhana Matahari terjadi diwaktu sore, maka hilal kemungkinan besar masih dibawah ufuk, sehingga magribnya dan keesokan harinya belum masuk bulan baru.

Karena Gerhana Matahari pada hari ini (kamis, 20 April 2023) terjadi diwaktu antara pagi sampai siang, maka bisa dipastikan magribnya sudah masuk awal bulan baru, atau bulan sabit sudah muncul. Karena tinggi hilal pada saat setelah terjadi Gerhana Matahari di Banda Aceh adalah 2 derajat. Tinggi hilal ini sudah cukup untuk memenuhi kriteria hisab hakiki wujudul hilal, sehingga besoknya, hari jum’at 21 April 2023 sudah mulai awal bulan Syawal, dan umat Islam sudah boleh melaksanakan shalat Idul Fitri. Fenomena Gerhana Matahari pada hari ini menguatkan metode hisab yang di pakai oleh Muhammadiyah, yang sudah menetapkan bahwa 1 Syawal 1444H jatuh pada hari Jum’at 21 April 2023, dengan metode hisab hakiki wujudul hilal.

Akan tetapi kriteria 2 derajat diatas belum memenuhi kriteria yang dipakai oleh MABIMS, yang menggunakan metode imkanur rukyat dengan tinggi hilal minimal 3 derajat.  Oleh karena belum memenuhi keriteria MABIMS, maka besok (jumat, 21 April 2023) belum masuk bulan baru dan syawal akan dimulai lusa (sabtu, 22 April 2023).

Perbedaan metode penentuan awal bulan diatas mengakibatkan kemungkinan besar Idul Fitri tidak dilaksanakan secara serempak. Akan tetapi  diatas perbedaan itu semua, mari tetap menjaga ukhuwah, jangan saling mencaci, jangan saling menyalahkan, jangan saling menjatuhkan. Karena Islam itu indah dengan perbedaan.

Wallahu Ta’ala A’lam Bishowab

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Translate »