Khutbah Jum’at: Bolehkah Merayakan Maulid Nabi Muhammad SAW ?

Khutbah pertama

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ
وَأَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلٰى مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِ مُحَمَّدٍ
، فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ، اِتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ
:  قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي الْقُرْاٰنِ الْعَظِيْمِ. أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ
يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ, وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا, وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً, وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ, إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah
Pertama, bersyukur kepada Allah SWT dengan mengucapkan “Alhamdulillah wasyukur lillah ala ni’amilah”, dengan limpahan nikmat, karunia dan hidayah dari allah SWT kita semua bisa hadir dalam majlis ini dalam keadaan sehat wal’afiyat.

Kedua, bershalawat kepada Rasulullah SAW dengan mengucapkan “Allahumma sholli ala Muhammad wa ala Ali Muhammad”, semoga keselamatan diberikan kepada Rasulullah, para sahabat, tabi’in, tabi’ut tabi’in dan semoga kita semua yang masih melestarikan dan menjalankan sunah-sunahnya.

Ketiga, khatib menyampaikan wasiat taqwa untuk diri sendiri dan untuk jamaah sekalian, mari kita tingkatkan iman dan taqwa, karena iman dan taqwa adalah bekal yang paling baik yang akan kita bawa untuk menghadap Allah SWT.

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah

Allah SWT berfirman dalam Q.S Ali-Imran : 144

وَمَا مُحَمَّدٌ إِلَّا رَسُولٌ قَدْ خَلَتْ مِنْ قَبْلِهِ الرُّسُلُ ۚ أَفَإِنْ مَاتَ أَوْ قُتِلَ انْقَلَبْتُمْ عَلَىٰ أَعْقَابِكُمْ ۚ وَمَنْ يَنْقَلِبْ عَلَىٰ عَقِبَيْهِ فَلَنْ يَضُرَّ اللَّهَ شَيْئًا ۗ وَسَيَجْزِي اللَّهُ الشَّاكِرِينَ

Artinya: Dan Muhammad hanyalah seorang Rasul, sebelumnya telah berlalu beberapa Rasul. Apakah jika Nabi Muhammad wafat atau dibunuh kamu akan berbalik ke belakang untuk murtad?, barang siapa berbalik ke belakang maka tidak akan merugikan Allah sedikitpun. Dan Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur ( Q.S Ali-Imran : 144 )

Didalam kitab Ibnu kasir dijelaskan bahwa ayat ini turun berkenaan dengan peristiwa perang uhud. Dimana perang uhud dimenangkan oleh kaum musyrikin. Diceritakan bahwa pada waktu perang uhud berkecamuk, tersiar kabar bahwa Nabi Muhammad SAW mati terbunuh. Berita ini rupa-rupanya mengacaukan konsentrasi kaum muslimin ketika itu, sehingga ada yang bermaksud untuk meminta perlindungan kepada Abu Sufyan

Ditambah lagi hasutan orang Munafik yang mengatakan bahwa “Kalaulah Muhammad memang seorang Nabi dan Rasul dia tidak akan mati terbunuh, mana mungkin seorang Nabi bisa mati?” kata mereka.
Maka kemudian Allah SWT menurunkan ayat ini untuk menentramkan kaum muslimin dan membantah kata-kata orang Munafik itu. Didalam tafsir lain disebutkan bahwa sahabat Abu Bakar mengatakan : terjadi kegelisahan di hati Umar bin Khattab dan para sahabat, yaitu ketika Rasulullah Saw wafat. Para sahabat tidak percaya kalau Rasulullah saw telah wafat. Kemudian Abu Bakar membacakan ayat ini untuk menentramkan hati para sahabat.

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah

Dari ayat dan tafsir diatas dapat kita ambil kesimpulan bahwa, Nabi Muhammad SAW adalah manusia biasa seperti halnya kita, butuh makan, minum, bisa sakit, capek, lelah, dan tentunya akan meninggal dan kembali kepada Allah swt. Hanya saja beliu diberikan kelebihan oleh Allah SWT diangkat menjadi Nabi dan Rasul serta diberikan kelebihan-kelebihan yang lain.

Bulan Rabiul Awal yaitu bulan dimana Nabi Muhammad SAW lahir ke dunia, pada bulan ini pula Nabi Muhammad SAW diangkat menjadi Nabi dan Rasul, di berikan tugas dan amanah oleh Allah untuk menyampaikan wahyu kepada seluruh umat manusia. Pada bulan ini pula terjadi peristiwa penyerangan Ka’bah oleh tentara Abrahah. Yaitu pada tanggal 12 Robiul Awal, pada hari itu pula Nabi Muhammad SAW lahir, yang kemudian dikenal dengan tahun gajah. Ketika bulan mulud tiba, kaum muslimin diseluruh dunia sedang bergembira dan senang menyambut dengan suka cita bulan kelahiran Nabi Muhammad SAW

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah
Ada beberapa bentuk ekspresi kaum muslimin untuk merayakan maulid Nabi Muhammad SAW, diantaranya :
1. Melantunkan lagu-lagu atau puisi arab untuk memuji Nabi Muhammad SAW

2. Acara sekaten di Yogyakarta
Acara Sekaten adalah bentuk ekspresi orang Yogyakarta dalam rangka menyambut maulid Nabi Muhammad SAW. Kalau di kota kudus ada acara dandangan, di Pati ada acara meron, dan masih banyak acara-acara lain sesuai dengan adat yang ada di daerahnya masing-masing

3. Mengadakan berbagai macam lomba dan kompetisi
4. Sebagian masyarakat jawa justru bulan maulid ini adalah bulan yang jelek kata mereka, tidak boleh melakukan acara-acara penting seperti, malangsungkan pernikahan, khitanan, bepergian jauh. Mereka beranggapan bahwa jika melakukan acara-acara penting dibulan maulud ini, maka akan mendatangkan malapetaka dan nasib yang buruk. Tentu ini tidak dibenarkan oleh syariat Islam, kita yakin bahwa semua hari, bulan, tahun adalah baik.

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah
Merayakan dan menyambut maulid Nabi Muhammad SAW sebagai bentuk kegembiraan adalah boleh saja. sepanjang itu untuk menambah semangat kita dalam ittiba’ Rasul, mengkuti jejak dan sunah Rasul, mengenang perjuangan Rasul, maka itu diperbolehkan. Cinta kepada Rasulullah, memuji Rasulullah, rasa gembira, itu juga diperbolehkan. Yang tidak boleh adalah cinta yang berlebihan, memuji yang berlebihan, bahkan sampai mengkultuskan Rasulullah, apalagi sampai menuhankan Rasulullah SAW, karena Rasulullah SAW hakikatnya adalah manusia biasa. Beliau bukan malaikat apalagi tuhan. Kita berdoa, memohon pertolongan tetaplah kepada Allah SWT semata.

أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

Khutbah kedua

الحَمْدُ ِللهِ الَّذِيْ أَرْسَلَ رَسُوْلَهُ بِاْلهُدَى وَدِيْنِ اْلحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّيْنِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ اْلكَافِرُوْنَ وَلَوْ كَرِهَ اْلمُشْرِكُوْنَ وَلَوْ كَرِهَ اْلمُنَافِقُوْنَ

فَقَالَ: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ, والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ, الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ

رَبّنَا لاَتُؤَاخِذْ نَا إِنْ نَسِيْنَا أَوْ أَخْطَأْنَا رَبّنَا وَلاَ تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الّذِيْنَ مِنْ قَبْلِنَا رَبّنَا وَلاَ تًحَمّلْنَا مَالاَ طَاقَةَ لَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنْتَ مَوْلاَنَا, فَانْصُرْنَا, عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِيْنَ.

اللَّهُمَّ إنَّا نَسْأَلُكَ الهُدَى  والتُّقَى  والعَفَافَ  والغِنَى

رَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِ
وَالْحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالَمِيْنَ

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Translate »