Kampung Pintar sebagai Literasi Sosial Perpustakaan

Inisiasi lahirnya kampung pintar terkadang tidak berkolerasi dengan pengembangan perpustakaan. Tidak bisa dipungkiri perpustakaan merupakaan asset strategis dalam mendorong budaya literasi di kalangan masyarakat. Selama ini telah dikenal perpustakaan berbasis inklusi sosial, namun model kampung pintar disini adalah kampung pencerahan yang terkonsep dalam bentuk pengayaan berliterasi sosial. Kepala Perpusnas RI, Muhammad Syarif Bando menjelaskan pada media, bahwa manifesto International Federation of Library Associations and Institutions (IFLA)-UNESCO 2022 menyatakan, perpustakaan umum adalah kekuatan untuk pendidikan, kebudayaan, inklusi dan informasi. Perpustakaan umum juga menjadi agen untuk pembangunan berkelanjutan, dan pemenuhan kebutuhan individu akan perdamaian dan kesejahteraan spiritual semua individu. Pernyataan tersebut disampaikan pertepatan saat menjadi tuan rumah pertemuan CDNLAO ke-28 yang mengangkat tema “Library Service Impacts on Community: Sustainability, Inclusion, and Innovation”.

Sebagai Agen pembangunan yang berkelanjutan, perpustakaan senantiasa pengembangkan peran strategisnya di tengah-tengah masyarakat terutama dalam meningkatkan kemampuan berliterasi masyarakat. Kampung pintar bisa dijadikan sebagai rujukan untuk pengembangan literasi sosial. Pengembangan literasi sosial ini dalam wujud fisiknya adalah kampung pintar, pintar lingkungan, pintar menyejahterakan diri yang terkonsep dalam pintar sumber daya manusia yang melek literasi. Sebagai langkah awal adalah bagaimana perpustakaan sebagai pelopor kehadirannya benar-benar dirasakan di kampung tersebut. Dibutuhkan proses yang panjang untuk menjadikan kampung tersebut benar-benar ideal sebagai sebuah kampung pintar. Ekosistem kampung pintar ini merujuk tema pertemuan CDNLAO ke-28 yakni dampak pelayanan perpustakaan pada masyarakat yang berkelanjutan, inklusi dan innovasi. Pustakawan Perpustakaan sebagai sutradara dalam merancang skenario pelayanan masyarakat yang terkonsep dalam kampung pintar. Terkait dengan ekosistem literasi sosial juga bagian dari upaya membentuk ekosistem digital yang bertujuan menjadikan kampung pintar tersebut sebagai bahan pustaka dan karya warganya.

Harapan kedepan dengan semakin masifnya kampung pintar di daerah-daerah, generasi-generasi terdidik punya minat untuk menjadikan kawasan tersebut sebagai referensi berliterasi sosial. Literasi sosial ini setidaknya merupakan kumpulan dari berbagai literasi yang selama ini dikenal di perpustakaan, menurut Tunardi (2018) sejauh ini terdapat 9 macam literasi yaitu literasi kesehatan, literasi finansial, literasi digital, literasi data, literasi kritikal, literasi visual, literasi statistik dan literasi informasi. Kemampuan berliterasi tersebut adalah bagian dari upaya untuk membangun peradaban masyarakat dan lingkungannya. Akses kemampuan berliterasi sejauh ini masih terkait dengan dunia pendidikan. Model kurikulum merdeka belajar juga menuntut kemanpuan berliterasi merupakan bagian dari assessment minimum pelajar yang terdapat dalam uji ANBK di berbagai jenjang satuan pendidikan.

Penerapan kampung pintar bisa dimulai dari sarana pendukung kampung tersebut, biasanya dalam sebuah kampung terdapat masjid atau mushola. Kawasan masjid digunakan secara rutin tempat untuk sholat lima waktu oleh warganya termasuk juga kegiatannya yang terinformasi secara lengkap pada papan pengumuman masjid tersebut. Selain itu juga dengan kebersihan lingkungan masjid tersebut. Kegiatan-kegiatan rutin seputar warga seperti kegiatan ibu-ibu PKK yang terjadwal. kampung pintar juga termasuk pintar berwirausaha bagi warga setempat sebagai bentuk kemandirian wargannya. Terkait kampung pintar juga tercermin dari kebersihan lingkunganya sehaingga disini menuntut warganya berperan aktif dalam menjaga lingkunganya supaya tertib dan peduli pada kebersihan. Penghijauan lingkungan juga harus di tata sedemikan rupa karena bagian dari literasi lingkungan untuk membangun ekosistem yang bebas dari polusi serta bersih udaranya. Disinilah peran dari literasi data untuk mendukung program pengembangan kampung pintar, sehingga dari data –data sarana yang diinput bisa di wujudkan sebagai program-program unggulan kampung pintar. Literasi data ini bisa berwujud pada jumlah KK yang ada di kampung pintar , berapa jumlah sarjananya, karena pendidikan warganya adalah penting untuk membangun mindset tata lingkungan, termasuk yang perlu dipastikan tidak ada warganya yang buta aksara.

Master plan desa cerdas yang selama ini telah di kenal, lebih menekankan pada konsep untuk mengangkat potensi desa tersebut dalam bidang tertentu seperti pariwisata, perkebunan, energi terbarukan. Seperti Desa Panggungharjo di Kabupaten Bantul sukses dengan pemberdayaan masyarakatnya dan pengolahan energi terbaharukan, sedangkan Desa Ponggok di Kabupaten Klaten dan Desa Ngroto di Kabupaten Malang sukses dengan pengembangan pariwisatanya (masterplandesa.com). Semuanya program itu berkonotasi dengan pemanfaatan APBDes dalam menyejahterakan masyarakatnya. Masterplan kampung pintar ini murni dari pengembangan model literasi sosial perpustakaan yang tentunya juga terdapatnya perpustakaan desa yang menjadi bagian gugus perpustakaan umum. Literasi pustaka yang terkait dengan dinamika warga setempat sehingga dalam aktivitasnya terdapat rujukan pustaka sebagai studi kepustakaan.

Era digitalisasi sebaiknya para pengelola kampung pintar juga menyediakan berbagai informasi tentang segala sesuatu entah itu pemberitaan kegiatan di kampungnya atupun berisi artikel atau juga semacam curhat sosial yang dikelola oleh pihak desa bekerjasama dengan perpustakaan. Masing-masing desa yang mempunyai Platform kampung pintar kemudian dikoneksikan dalam e-katalog perpustakaan. E-katalog tentang kampung pintar ini bisa dibuatkan dalam bentuk aplikasi khusus yang sifatnya nasional. Pengembangan literasi sosial di sini ditekankan pada pengetahuan wawasan nusantara, tidak hanya berisi keragaman budaya saja juga berisi tentang interaksi sosial warganya. Perlunya MOU antara perpusnas dan kemendagri supaya pengembangan kampung pintar ini sesuai dengan visi perpustakaan karena terkait dengan apa dan bagaimana yang harus ditampilkan di dalam platform kampung pintar. Dalam upaya kepedulian berliterasi sosial bisa juga perpusnas membuat platform khusus kampung pintar yang nantinya juga disebarkan di seluruh desa dan kelurahan di Indonesia.

Diharapkan dengan keberadaan platform kampung pintar, mindset warga masyarakat akan makin berkembang. Saat ini telah dikenal jurnalis warga yang dikembangkan oleh media massa , di situ warga secara smart berbagai tentang pemikiran dan berbagai peristiwa lainnya . Setidaknya gambaran dari platform kampung pintar juga seperti itu, platform tersebut mendidik warganya untuk secara cerdas membagikan suatu peristiwa dalam platform kampung pintar. Tidak semudah itu mengarahkan warganya mempunyai kompetensi dasar literasi yaitu: membaca maupun menulis, dibutuhkan relawan pendamping untuk mengedukasi warganya.

Partisipasi perpustakaan sebagai transfer knowledge amat dibutuhkan, kampung percontohan seperti kampung Pare Kediri yang dikenal dialektika Bahasa asingnya bisa di jadikan miniatur model kampung pintar. Namun disesuaikan juga dengan ciri khasnya daerahnya, seperti daerah yang juga dikenal adanya ponpes bisa juga dikembangkan menjadi daerah tahfidz. Master plan kampung pintar tetap memperhatikan kemajemukan serta ciri khas daerah setempat, diharapkan dengan makin tumbuhnya kampung-kampung pintar maka makin ikut memajukan pendidikan di Indonesia, pola seperti ini  juga sesuai dengan pengembangan kurikulum merdeka yang meniadakan jam pelajaran per minggu seperti kurikulum sebelumnya, sehingga pembelajaran anak bisa juga dikolaborasikan dengan pengembangan kampung pintar. Diharapkan dengan kolaborasi ini peran perpustakaan akan makin melekat, perpustakaan yang selama ini dikenal hanya sebatar kolektor buku saja bisa berkembang secara dinamis sesuai dengan kebutuhan dan tantangan masyarakatnya. Dengan demikian perpustakaan umum bisa juga bekerjasama dengan perpustakaan sekolah untuk mengaktifkan anggota perpustakaan sekolah untuk menghidupkan platform kampung pintar karena anak usia sekolah masih hangat-hangatnya penguasaan kompetensi dasar literasi.

Dibutuhkan ikhtiar bersama baik perpustakaan, pemerintah daerah, lembaga pendidikan untuk bersama-sama menumbuhkan kampung pintar sebagai bagaian dari literasi sosial. Perpustakaan nasional dan daerah bertanggungjawab dalam penyedian sumber pustaka dan juga informasi kepustakaan tentang kampung pintar yang juga dijadikan e-katalog khusus. Pemerintah bisa menginstruksikan aparaturnya maupun birokrasi pemerintahan desanya untuk menggiatkan warganya dalam mengelola kampung halamannya, benar-benar menjadi kampung pembelajaran baik bagi warganya maupun masyarakat pada umumnya. Pihak lembaga pendidikan bisa menjadikan kampung pintar sebagai asset untuk bersama membangun pengetahuan siswanya dan juga gurunya, dengan demikian terjadi umpan balik antara lembaga pendidikan dan juga kampung pintar. Sehingga tujuan dari kampung pintar sebagai pusat literasi sosial dapat tercapai.

Manfaat digitalisasi Kampung pintar ini juga sebagai promosi wisata edukasi di Indonesia, siapa tahu akan menarik minat para peneliti luar negeri terutama dari kampus-kampus terkenal untuk meneliti kampung pintar ini. Diharapkan konsep pemberdayaan kampung pintar ini dapat memberikan sumbangsih untuk memajukan Indonesia, para warganya memiliki inovasi dan kreatifitasnya yang tinggi. Diharapkan kesejahteraan warga secara umum maupun individu dapat tercapai, inilah yang selama ini dikenal denagn pembangunan sumberdaya manusia yang berkelanjutan melalui semangat untuk mengembangkan budaya literasi. (Syahirul Alem, Pustakawan SMP Muhammadiyah 1 Kudus)

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Translate »