Pagelaran Wayang dan Misi Dakwah

Dalam pagelaran wayang biasanya yang menarik adalah lelakon sosok ksatria sakti madraguna. Kisah Mahabarata yang menggambarkan Perang Pandawa Kurawa maupun Ramayana merupakan kisah yang masih relevan untuk saat ini. Apalagi dengan hadirnya sosok Punakawan yang menggambarkan kehidupan abdi dalem, berisi petuah-petuah bijak sosok Semar. Bicara pagelaran wayang sebagai misi dakwah adalah contoh kesuksesan yang dilakukan oleh seorang wali songo yaitu Sunan Kalijaga. Beliau berhasil mengislamkan kawasan Pantura bagian Timur melalui pagelaran wayang yang diiringi tembang lagu seperti Ilir-ilir. Tembang lagu tersebut didalamnya terdapat syair-syair yang sarat  mengandung ajaran ma’rifat  berisi nilai-nilai ketauhidan.

Pagelaran wayang sampai saat ini masih bagus  menjadi tontonan walaupun banyak pesaing dalam dunia hiburan. Ada keunikan tersendiri ketika menonton wayang, sebuah pentas yang  menggambarkan tampilan kreasi kulit. Wayang-wayang tersebut bila dimainkan oleh sosok Dalang akan makin hidup dan menarik. Iringan gamelan dan sosok sinden yang mengiringi wayang akan makin membuat hidup pagelaran wayang tersebut. Pagelaran wayang dan dakwah apakah itu memungkinkan,  jawabnya adalah sangat mungkin karena dakwah tidak hanya sebatas dengan lisan seperti para da’i yang suka berceramah. Bisa dilakukan oleh para seniman seperti dakwahnya Kyai Kanjeng pimpinan Emha Ainun  Najib yang diiringi gending jawa dan syairnya yang begitu menggugah hati terutama lagu tobo ati yang begitu familiarnya. Juga seorang pendangdut senior Rhoma Irama atau Bang Haji yang berdakwah dengan irama dangdutnya.  Harus di akui saat ini belum ada dalang kondang layaknya Rhoma Irama atau Emha Ainun Najib yang menjadikan dunia hiburan sebagai misi dakwah.

Karakter dan keahlian sebagai dalang memang butuh proses panjang. Di samping turun temurun, saat ini keahlian tersebut bisa dilatihkan pada generasi anak usia belia seperti siswa sekolah dasar untuk sekedar belajar mendalang. Dukungan kuat budaya kraton seperti Jogjakarta maupun Surakarta merupakan modal untuk melestarikan wayang sebagai tradisi. Pagelaran wayang mempunyai pengaruh kuat di daerah Jawa Tengah dan Jawa Timur, pola penyebaran Islam toleran yang dilakukan para wali songo juga di seputar daerah tersebut. Asal usul wayang berasal dari kata “Ma Hyang” artinya menuju pada roh spiritual, Dewa atau Tuhan Yang Maha Esa. Dahulu wayang digunakan untuk pemujaan roh oleh orang jawa, kemudian oleh para wali songo menjadikannya sebagai media dakwah, Sehingga Islam begitu dikenal oleh semua lapisan masyarakat jawa hingga kini. Beberapa versi mengatakan bahwa wayang itu asli Jawa, ada juga sumber yang mengatakan wayang itu berasal dari India karena seringkali ceritanya adalah kisah Mahabarata atau Ramayana dari tanah Hindustan India kuno. Karena asal usul dan keunikan wayang itu sendiri maka sudah sepantasnya wayang itu digunakan sebagai sebuah misi dakwah, bukan hanya hiburan para pejabat saja yang biasanya diadakan dalam event tertentu seperti hari Jadi kota saja. Mengingat pentingnya menjawab tantangan zaman supaya ikon wayang bisa menjadi bagian dari unsur edukasi, sangat berdosa bila generasi milenial ataupun Z tidak mengenal apa itu wayang kulit.

Saat bulan suci ramadhan merupakan bulan  yang sarat pesan-pesan religi. Momentum bulan suci tersebut bisa dijadikan Sebuah terobosan dalam mengenalkan wayang kulit saat jelang berbuka maupun saat sahur.  Pentas wayang golek oleh Dalang Ki Asep Sunandar pernah tampil dalam acara jelang berbuka di stasiun televisi. Acara televisi jelang berbuka biasanya mempunyai rating yang tinggi. Saat ini media tidak sebatas pentas  di stasiun televisi tapi juga bisa melalui youtobe. Terutama sebagai wahana mengekspresikan jiwa seni bagi para pedalang yang masih amatir. Bertemakan tentang larangan pergaulan bebas dan narkoba bisa juga menjadi cerita dalam pentas pewayangan sekaligus misi dakwah sosial.

Keunikan wayang bisa menjadi media dakwah karena dakwah itu butuh spirit, bolehlah menjadi sebuah mitos. Dulu kegiatan wayang adalah sebuah ritual pemujaan terhadap nenek moyang kini sebagai sebagai jalan untuk mengenal keagungan sang khalik. Supaya manusia benar-benar menjadi sosok yang pandai bersyukur atas segala anugerahnya. Saat ini adalah era hedonis semuanya serba di hitung serba materialis sehingga banyak orang tergiur nafsu serakah duniawi. Sosok cerita wayang bisa dinarasikan sebagai sebuah narasi bagaimana kecintaan terhadap duniawi bisa diarahkan menjadi sikap kedermawanan untuk saling membantu satu sama lain sekaligus sebagai upaya rasa syukur pada Allah SWT atas segala nikmat dan karunianya. Bagaimana mendakwahkan cara mencari rizki yang halal jauh dari unsur korupsi, kolusi serta nepotisme yang makin sulit untuk diberantas. Termasuk juga makan dari makanan yang halal karena saat ini banyak makanan yang sumber bahan bakunya bersumber dari makanan yang haram.

Pesan-pesan sosial tersebut bisa diperankan dalam tokoh pewayangan yang terkenal seperti Mahabarata maupun Ramayana dalam konteks Bahasa dan permasalahan kekinian, dengan begitu pagelaran wayang sebagai misi dakwah sedikit banyak akan membantu terkikisnya Islamphobia yang saat ini menjadi momok orang non-muslim. Islamphobia adalah dampak dari sikap teror seperti bom bunuh diri ataupun bom untuk mencederai seseorang. Maka dari itu pentingnya pagelaran wayang sebagai pengingat bahwa Islam datang ke bumi nusantara ini dengan penuh kedamaian sebagaimana Sunan Kalijaga berdakwah juga melalui wayang. Kegiatan mendalang dan memainkan gending jawa harus diajarkan sejak dini, termasuk dalam satuan pendidikan saat ini.  Belajar mendalang tidak harus secara langsung karena tidak setiap kota ada sosok yang mahir dalam mendalang bisa juga melalui belajar secara autodidak yaitu lewat youtobe yang kemudian diprogramkan secara intensif.sehingga lahir pedalang lokal maupun pedalang cilik.

Misi dakwah Amar Ma’ruf Nahi Mungkar seperti yang diserukan dalam surah Al-Imran ayat-104 bisa diwujudkan dalam komunitas pewayangan.  Sebagai bagian dari golongan yang selalu menyeru dakwah Amar Ma’ruf Nahi Mungkar melalui cerita-cerita wayang kontemporer. Kemasan cerita kontemporer dengan para lelakon yang bisa dipahami oleh orang masa kini. Inilah Islam di Indonesia yang sebenarnya datang dengan mayoritas penduduknya memeluk agama Hindu dan Budha kemudian terjadi Islamisasi budaya lokal. Proses akulturasi budaya yang diperjuangkan oleh para wali songo sebagai para pendakwah Islam masa lampau yang kini makamnya ramai oleh para penziarah yang dikenal dengan wisata religi. Sentuhan magic wayang sebagaimana orang jawa menyakininya sebagai pusaka sama halnya keris adalah pesan simbolik yang bisa dijadikan sebagai mindset.  Kesakralan hanyalah sebagai media transformasi sosial untuk mengkomunikasikan pesan pesan ilahiah dan tugas manusia sebagai khalifah di muka bumi.

Tugas-tugas khalifah di muka bumi yang antara lain adalah menjaga dan melestarikan alam semesta. Isu isu perubahan iklim yang saat ini menjadi kekwatiran masa depan.  Kehidupan manusia akan kerusakan lingkungan bisa di edukasi melalui tokoh pewayangan seperti sosok punakawan: Gareng, Petruk, Bagong maupun Semar. Pesan pesan tokoh pewayangan bisa di gambarkan dalam bentuk gambar mural yang terlukis polusi lingkungan yang makin tercemar dengan terlukiskan wajah punakawan yang bersedih sebagi media untuk mengingatkan sosok tokoh wayang tersebut. Inspirasi tersebut akan makin mengenalkan wayang sebagi media hiburan yang diselipi pesan-pesan moral dan dakwah. Sehingga bila suatu saat ada pagelaran wayang didaerah setempat kaum muda berduyun-duyun ikut nongkrong melihat pageran tersebut.

Memang agak berat mengenalkan wayang sebagai sebuah ikon hiburan yang merakyat, sampai saat ini hanya komunitas terdidik dan bangsawan keraton yang masih mencintai wayang.  Pepatah mengatakan  “ada kemauan pasti ada jalan” atau “banyak jalan menuju ke Roma”, pepatah-pepatah tersebut bisa menjadi sebuah motivasi untuk menjadikan pagelaran wayang menjadi tontonan di semua lapisan masyarakat sehingga makin memudahkan misi dakwah yang di emban dalam cerita pewayangan tersebut.  Aksara jawa seperti hancaraka dan seterusnya merupakan pesan-pesan moral dalam tokoh pewayangan jawa. Aksara jawa tersebut dulu sangat familiar dikalangan anak sekolah kini harus kembali dikenalkan dalam bahasa jawa karena bahasa daerah tersebut adalah juga bahasa yang digunakan para dalang wayang tempo dulu. Makin kuatnya peran sosial pagelaran wayang dalam mempribumikan ajaran Islam masa lalu maka tantangan dan problematika saat ini adalah tanggungjawab bersama menjadikan ikon wayang sebagai misi dakwah melalui pagelaran kolosal yang menjadi tontonan khalayak. (Syahirul Alem, Pustakawan SMP Muhammadiyah 1 Kudus))

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Translate »