Image Perpustakaan sebagai Tempat Literasi Tradisional

Peradaban dunia makin berupah cepat, sumber pustaka juga mengalami perubahan yang begitu cepat. Sejak penemuan gadget sebagai alat komunikasi dan informasi. Peran perpustakaan jadi kian meredup. Di satu sisi minat berliterasi makin merosot jauh, di sisi lain sumber informasi pustaka yang biasannya menjadi domain perpustakaan kian tergantikan oleh kecanggihan mesin pencari informasi Google. Siapapun yang membutuhkan informasi tinggal download saja, secara otomatis informasi yang dibutuhkan dapat disajikan.  Menarik sekali tentang sebuah study yang dilakukan oleh online computer library center yang melaporkan perpustakaan dalam persepsi masyarakat adalah sumber informasi tradisional. Sebuah study yang berjudul “From Awareness to Funding : A Study of Library Support In America”. Secara kasat mata studi tersebut bisa jadi benar adanya karena perpustakaan tempo dulu dan sekarang tak ubahnya sama saja yaitu kumpulan buku-buku yang berjajar rapi di rak perpustakaan. Barangkali melihat tempat perpustakaan yang tiada berbenah maka image seseorang seolah membayangkan dinamika literasi yang tidak diikuti manajerial perpustakaan.

Pada banyak tempat di tuntut adanya perubahan, siapa yang tidak mau berubah pasti akan tertinggal, sebagai contoh adalah pasar tradisional yang dulunya ramai sekali sebagai pusat perekonomian kali ini justru berbalik arah yang ada adalah kios-kios yang menunggu datangnya pembeli. Demikian juga perpustakaan bila tampilan dan pelayan masih standard dan tidak mengikuti perkembangan boleh jadi perpustakaan sama halnya sebagai pendukung tradisi yang tentunya orang memandangnya sebagai tempat yang kuno. Sinya untuk berubah harus menjiwai pustakawan sebagai bagian dari perjuangan berliterasi. Mana mungkin perkembangan literasi tanpa melibatkan partisipasi perpustakaan. Perkembangan digital saat ini setidaknya sebagai sarana untuk mendorong perkembangan perpustakaan menjadi perpustakaaan yang maju. Kini aplikasi perpustakaan makin mudah diakses di Handphone masyarakat terutama yang berada di lingkungan pendidikan. Buku-buku tercetak di rak-rak perpustakaan juga bisa diakses dalam bentuk e-book, setidaknya keduanya saling melengkapi karena membaca di layar dan buku juga berbeda, tinggal pilihan  mana yang bisa memudahkan untuk mendapatkan informasi dari buku tersebut.

Teknologi yang berbiaya mahal juga menjadi kendala bagi pengembangan perpustakaan karena anggaran perpustakaan yang juga terbatas. Semisal untuk membeli buku-buku yang up-date saja masih belum maksimal. Namun bukan berarti pustakawan berhenti dalam berinovasi untuk mengembangkan perpustakaan menjadi lebih maju. Salah satu cara untuk mengembangkan perpustakaan menjadi lebih maju adalah dengan berkolaborasi dengan berbagai pihak antara lain :

  1. Teknisi Informatika
    Kolaborasi dengan pihak teknisi informatika sangat strategis sebagai upaya untuk mendorong perpustakaan menjadi perpustakaan yang berbasis digital sesuai dengan tantangan perkembangan zaman. Tampilan web perpustakaan sekolah adalah salah satu contohnya. Barangkali teknisi informatika yang profesional juga mahal gajinya, karena perpustakaan bukan lembaga yang profit-oriented, anggaran perpustakaan jelas tidak mampu membiayainya. Maka kerjasama dengan sekolah vokasi dengan menjadikan perpustakaan sebagai basis pelayanan informasi digital untuk praktek lapangan anak-anak sekolah vokasi akan membuat perpustakaan bisa berubah denga biaya yang sangat efisien. Asalkan manajerial perpustakaan sudah membuat mapping digitalisasi perpustakaan
  1. Badan Statistik
    Kerjasama perpustakaan dengan badan statistik sangat penting dalam upaya memetakan potensi usia yang giat berliterasi maupun literasi yang tepat guna untuk kalangan bebas usia artinya perpustakaan tidak mengenal batas usia seperti sebuah gedung bioskop. Sehingga melalui kerjasama dengan badan statistik akan memudahkan untuk memetakan pustaka apa saja yang dapat mendukung minat berbagai kalangan untuk menjadikan perpustakaan sebagai pusat ilmu dan peradaban. Proses pengambilan keputusan secara statistik sangat dibutuhkan supaya tidak terjadi bias karena di dukung angka-angka yang valid.
  2. Pendidik & Peneliti
    Dunia pendidikan jelas membutuhkan peran perpustakaan untuk mengembangkan budaya minat baca di lingkungan sekolah. Penggerak budaya literasi sejatinya ada pada sektor pendidikan sebagai lingkungan pembelajar. Setidaknya penugasan dan pembiasan untuk berkunjung ke perpustakaan sekolah akan terbudaya manakala ada dorongan positif dari pendidik. Partisipasi para pendidik untuk mendorong budaya minat baca siswanya akan memberikan energi positif bagi perkembangan perpustakaan yang maju. Selain itu juga peran para peneliti juga akan makin menghidupkan khasanah literasi perpustakaan terutama jurnal dan buku-buku yang terupdate. Sehingga apapun informasi terkini dunia litersai perpustaakaan akan diikuti dengan perkembangan pustakannya.
  3. Pers
    Peran dan partisipasi pers sangat signifikan dalam memdorong perpustakaan menjadi lebih berkembang. Berbagai pemberitaan mengenai literasi dan perpustakaan selalu hadir di kolom-kolom pemberitaan. Sehingga menjadikan perpustakaan ini sebagai tempat yang layak untuk diwartakan. Sebagai pustakawan juga harus selalu menyediakan berbagai berita di media pers sebagi konsumsi bagi mereka yang haus akan sumber informasi dan berita. Dewasa ini Koran-koran digital juga makin menjadi tren media sehingga aksesnya menjadi makin ringan cukup dibaca secara digital oleh para pengunjung perpustakaan. Informasi yang disediakan pers juga amat penting untuk mengetahui tren terkini dalam tata kelola perpustakaan yang modern dan lebih maju. Karena pers adalah gudangnya informasi sehingga tepat kiranya bila perpustakaan dan pers saling berpatners untuk mewujudkan budaya berliterasi. Banyak manfaat yang diperoleh bila perpustakaan bekerjasama dengan baik dengan dunia pers. Bagi perpustakaan adalah manfaat manajerial sedangkan bagi pers adalah manfaat budaya baca media produk pers itu sendiri.
  1. Bendaharawan/Pengelola Keuangan
    Pentingnya prioritas alokasi anggaran perpustakaan bagi para pengelola keuangan Dimanapun perpustakaan itu ada baik di institusi pemerintah, sekolah maupun juga sekitar masyarakat. Perpustakaan diibaratkan anak yang butuh perkembangan tidak hanya peduli dengan makan sehari-hari namun juga dengan asupan gizinya juga. Maka dari itu daya dorong anggaran perpustakaan juga harus diperhatikan. Pemerintah juga harus pemperhatikan juga nasib tenaga perpustakaan yang hamper setiap hari bergelut dengan dunia litersi. Karena daya dorong anggaran pendapatan dan belanja pemerintah akan memberikan implikasi yang besar bagi perkembangan perpustakaan, setidaknya dengan menjadikan perpustakaan sebagai penerima alokasi anggaran akan membuat dunia literasi makin maju.
  1. Lembaga Rating
    Selama ini orang mengenal rating dari program televisi saja, dengan asumsi semakin tinggi ratingnya sebagai bagus acarannya maka pemasukannya dari iklan juga makin tinggi pula. Lembaga rating biasanya melakukan survey di masyarakat sepert AC Nielsen. Perpustakaan di perguruan tinggi juga salah komponen peniliaian peme ringkat lembaga perguruan tinggi seperti Weebometric. Sehingga tampak perpustakaan di perguruan tinggi makinmaju dan dinamis. Setidaknya itu juga bisa diterapkan untuk perpustakaan baik nasional maupun daerah termasuk juga berbagai layanan perpustakaan di sekolah.

Komponen-komponen tersebut merupakan langkah untuk mewujudkan peran dan partisipasi untuk menjadikan lingkungan perpustakaan menjadi lingkungan yang berdaya saing. Berbagai kantor layanan juga terus berbenah seperti kantor perbankan, kantor perpajakan dengan mengikuti perkembangan digital sehinga keberadaanya kantor-kantor tersebut makin dinamis. Oleh sebab itu sudah saatnya model pengembangan perpustakaan juga harus dikembangankan supaya kedepannya image perpustakaan sebagai tempat tradisional bisa terkikis. Apalagi di tengah makin menurunnya minat baca kesan perpustakaan seolah menjadi momok. Setidaknya stigma orang membaca sebagai orang yang kurang kerjaan akan sirna. Bukan mustahil untuk mewujudkan perpustakaan sebagai lembaga yang berpengaruh seperti pada zaman keemasannya di mana penemuan penemuan baru lahir dari mereka yang mempunyai minat baca di perpustakaan.

Tidak dipungkiri butuh proses panjang untuk menjadikan budaya literasi sebagai budaya pendobrak setidaknya di Indonesia ini. Indonesia saat ini dikenal sebagai Negara yang masyarakatnya melek dalam penggunaan internet namun amat disayangkan jika budaya literasinya masih rendah kalah dibanding dengan Negara tetangga seperti Malaysia maupun Singapura apalagi dengan Negara maju lainnya. Tingkat keironisan itu harus segera dikikis dengan mengembangkan budaya literasi menjadi budaya massif yang gaul terutama dengan para generasi millenial dan generasi Z sebagai generasi emas bangsa ini.

Kegiatan berliterasi yang tengah moncer saat masa pandemi setidaknya jangan sampai meredup harus terus dihidupkan karena literasi bukan hanya kebutuhan bagi mereka yang tidak punya kerjaan tapi sebagai kebutuhan masa depan tanpa literasi dunia akan gelap gulita, tanpa literasi manusia akan menjadi manusia yang primitif.  Inovasi dan kreasi membutuhkan budaya literasi yang kuat sehingga disinilah peran perpustakaan untuk menjawab berbagai problematika masyarakat terkini yang selalu butuh berinovasi karena makin ketatnya daya saing akibat persaingan global. Sumber daya manusia yang canggih akan menjadikan literasi sebagai basis dirinya untuk mengembangkan diri. Manajemen perpustakaan selain disibukkan dengan berbagai pembenahan internal.  Arus digitalisasi karena perkembangan zaman juga harus memainkan perannya untuk menarik minat komponen masyarakat membiasakan budaya berliterasi untuk meningkatkan daya saing sumberdaya manusia, setidaknya itulah ikhtiar supaya persepsi image perpustakaan sebagai literasi tradisional tidak menjadi kenyataan. (Syahirul Alem, Pustakawan SMP Muhammadiyah 1 Kudus)

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Translate »